Setiap potongan waktu adalah momentum. Setiap pengenal masa adalah kesempatan. Masing-masing punya fungsi dan karakternya. Hari Selasa ini bukanlah hari Selasa yang kemarin, meski namanya sama. Potongan-potongan waktu itu tak semata cukup dipahami sebagai kumpulan menit atau jam, saat kita meneyelesaikan kerja, menyempatkan tidur, istirahat, berolahraga, ibadah, atau kegiatan lainnya.
Sepotong waktu adalah momentum. Semacam pelontar, yang bisa melemparkan diri ke puncak sukses, atau sebaliknya menjungkalkan kita ke jurang kegagalan. Maka momentum hidup tak saja orang merayakan ulang tahunnya, atau saat datang hari raya, atau saat usianya telah injak dewasa. Itu semua bisa jadi momentum.
Hidup memang tidak mengenal siaran tunda. Yang terjadi pasti terjadi. Bila semua ikhtiar sudah kita lakukan. Maka kita sebagai manusia hanya bisa pasrah dalam do'a. Siaran tunda memang tidak selalu berlaku di dunia. Tapi kita masih punya banyak hak siaran selama hayat masih di kandung badan. Sebelum jasad berkalang tanah, tidak ada kata berhenti siaran. Tidak ada siaran tunda memang, tapi pepatah mengatakan bahwa kegagalan adalah kemenangan yang tertunda. Kalimat ini hanya berlaku bagi orang yang mampu mengambil ibroh. Tanpa itu, kemenangan akan selalu tertunda.
"Kesempatan adalah hal yang paling mudah kamu sia-siakan". (Yahya bin Muhammad bin Hubairah)
Menikah di kala kuliah enak gak ya? Setelah capek, berkutat dengan buku-buku, ‘killer’-nya dosen, tugas-tugas yang gak bosan menanti, tampang kita yang kucel banget, tapi saat di rumah bisa segar lagi lho. Kebayang, ada istri yang menanti, anak yang ribut cerita-cerita, lalu makan bareng, wah…uenak tenan!!!
Tapi ada juga yang sebaliknya, nah lho! Udah capek di kampus, pulang-pulang ke rumah, rumah laksana kapal pecah, anak-anak pada berantem, nangis, wah…kaya’ ginian sepet nih. Belum lagi saat tibanya masa ujian semester, wuaah, hiks…hiks…jadi ingin nangis. Perasaan, kok nikah malah jadi sengsara ya.
Jadi idealnya gimana dong? Nyelesaikan kuliah dulu, baru menikah, atau sambil kuliah juga menikah. Ada lho yang berhasil, dalam artian ‘berani menikah’ dan prestasi tetap dapat diraih. Tapi ya…itu, ada pula yang sebaliknya. Gedubrak! Jadi bingung deh! Masalahnya cinta tak kenal waktu lho, ia hadir begitu saja, gak peduli dengan status kita sebagai mahasiswa.
Ada pula contoh kasus lain, aktifis dakwah kampus, karena ‘dipanas-panasin’ ama sesama aktifis, berani menikah, prestasi kuliah pun bagus, namun futur di jalan dakwah. Lainnya, belum berani menikah dengan alasan menikah akan mengganggu kuliah dan aktifitas dakwah. Hmm…bingung ya. Duh…cinta…cinta, kok gak tau sih kalau saya masih kuliah! Nikoniko (smiles)
Masalah-masalah diatas bukan hanya terjadi pada antum saja lho, banyak banget kasus seperti ini. Karena itu dalam Islam kita kenal istilah Fiqih Muwazanah, atau fiqih untuk membuat pertimbangan-pertimbangan praktis. Atau kerennya sih, kaedah fiqih ini bisa untuk membuat pertimbangan-pertimbangan praktis. Misalnya nih, mana dulu yang penting sih antara menikah saat masih kuliah atau setelah selesai kuliah baru menikah. Atau lagi, berdakwah melalui cara menikah atau lebih mudah berdakwah dengan tidak menikah terlebih dahulu.
Buat ‘kalangan atas’, kaidah fiqih ini sering digunakan juga di kalangan aktifis dakwah yang hendak menikah lagi (ta’addud atau poligami). Pertimbangan mereka sih memang udah beda, mereka mikirnya dengan alasan dakwah perlu menambah seseorang atau lebih gak ya, di samping seorang istri yang udah jadi pendampingnya. Nyambung gak? Kalau gak nyambung di-EGP-in aja, karena ini ‘pembicaraan kalangan atas’, lha 1 aja belum ada, udah bicara ta’addud. he…he…
Wah…akhwat bisa sensitif nih! Kalem…kalem…Tausyiah ini baru membahas tentang menikah sambil kuliah kok, belum ta’addud-ta’addud-an. Ntar kalau masing-masing udah punya 1, baru deh. Glek!
Terkait dengan masalah di atas, kita lihat yuk, bagaimana Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah (juz 2 hal. 12-15, Darul Fikri, tahun 1412 H/1992 M) menjelaskan tentang menikah ini.
Dari buku tersebut, kita bisa membuat khulashah (rangkuman) dari pandangan ulama diatas, yaitu:
1. MENIKAH HUKUMNYA WAJIB Artinya, jika dilakukan menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala ridho, dan pelakunya mendapatkan pahala, dan jika tidak dilakukan menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala murka dan yang meninggalkannya mendapatkan dosa. Nah, kapan menikah menjadi perbuatan wajib?
Yaitu, apabila memenuhi hal-hal berikut ini:
- Dirinya telah memiliki kemampuan, baik materiil maupun biologis.
- Nafsu dan jiwanya telah menggelora.
- Terancam atau khawatir terjerumus dalam perzinahan.
2. MENIKAH HUKUMNYA SUNNAT
Bisa sunnat juga lho, artinya jika dilakukan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan tidak mendapatkan dosa.
Menikah menjadi perbuatan sunnat, jika kondisinya adalah sebagai berikut:
- Dirinya telah memiliki kemampuan, baik materiil maupun biologis.
- Nafsu dan jiwanya telah menggelora.
- Tidak ada kekhawatiran dalam dirinya (atau merasa aman) dari perzinahan.
3. MENIKAH HUKUMNYA HARAM Wuah…menikah kok hukumnya haram ya? Iya, yaitu jika kondisinya adalah:
- Tidak memiliki kemampuan, baik materiil maupun biologis.
- Nafsu dan jiwanya sudah menggelora.
Kalau emang kondisinya kaya’ gini, maka yang mestinya dilakukan adalah hendaklah dia memperbanyak berpuasa dan menyiapkan diri untuk memiliki dua kemampuan di atas, serta menjaga kesucian dirinya.
4. MENIKAH HUKUMNYA MAKRUH Menikah juga ada yang makruh ya? Yup! Yaitu apabila kondisinya adalah:
- Tidak memiliki kemampuan, baik materiil maupun biologis.
- Nafsu dan jiwanya sudah menggelora.
- Pihak wanitanya menerima kondisi ini.
5. MENIKAH HUKUMNYA MUBAH ATAU JAIZ ATAU BOLEH Maksudnya, jika kondisi seseorang biasa-biasa saja, tidak ada kondisi yang mewajibkan atau mensunnatkan, dan tidak ada pula kondisi yang mengharamkan atau memakruhkan.
Nah…sekarang udah tahu-kan, bahwa dalam fiqih Islam, hukum pernikahan ada yang wajib, sunnah, makruh, haram, dan mubah. Ini sesuai dengan keadaan yang bersangkutan lho, artinya tiap orang bisa beda-beda kan.
Sekarang coba merenung deh, atau berdiri depan cermin, kira-kira yang di cermin itu pada posisi mana ya. Hmm…mikir-mikir!
Kalau udah mikir, lalu kesimpulannya bahwa posisi sekarang adalah posisi kedua, maka menurut Ustadz Musyaffa A. Rahim, Lc ada 1 lagi pertimbangan yang harus dilakukan. Wuah…ribet banget sih mau nikah aja! Gak kok, menurut beliau pertimbangan apabila antum pada posisi kedua, yaitu apakah dengan menikah nanti, kuliah akan terganggu atau terhenti?
Kalau menikah akan mengganggu kuliah, dalam artian gangguan serius seperti cuti, apalagi sampai terhenti, maka menikah saat sekarang ini tidaklah masuk kategori sunnat (kedua), namun sebaliknya, yaitu makruh (keempat). Karena menurut beliau lagi, menuntut ilmu hukumnya wajib, sementara menikah pada kondisi seperti diatas ‘hanyalah’ sunnat.
Gimana kalau dalam perhitungan, menikah gak akan menjadi gangguan serius terhadap perkuliahan, bahkan akan menjadi faktor kesuksesan, maka menikah pada kondisi ini paling tidak hukumnya adalah sunnat, bahkan bisa menjadi wajib lho, wallahu a’lam.
Termasuk dalam hal ini, jika udah mikir-mikir sebenarnya sih ada pada posisi makruh (keempat), namun ada akhwat yang mengajak menikah, ehm…ehm…bahkan akhwat itu ngasih jaminan untuk tidak mengganggu perkuliahan, malah mau bantu-bantu, iih…ureshii (senang banget), maka kondisi makruh bisa jadi sunnat. Sebab faktor yang memakruhkannya telah hilang dengan adanya jaminan itu.
Namun lagi-lagi Ustadz Musyaffa menyarankan kepada para ikhwan untuk berpegang pada sifat rujulah (kejantanan), jadi bukan mengandalkan atau menyandarkan diri pada jaminan pihak akhwat. Bukan gak percaya pada jaminan akhwat lho, namun demi menjaga sifat rujulah tersebut. Iya dong, ikhwan itu kan calon ‘qowwam’-nya akhwat dan jundi-jundinya di keluarga! Jadi tunjukkan tuh sifat rujulah!
Kalau udah pada posisi sunnat, maka segera diskusikan dengan orang tua, agar ada tafahum dalam hal ini, jadi kamu puas orangtua pun qana’ah dengan keputusan menikah.
Jadi buruan merenung, mikir…mikir…kalau udah pada posisi emang harus menikah, jangan ‘mbulet’ lho, pake’ alasan sana-sini. Karena kalau sebenarnya udah dalam posisi sehat dan mampu, dan belum menikah maka kata Rasulullah SAW, “Ia adalah termasuk teman setan, atau mungkin termasuk golongan pendeta Nasrani, karena sunnah kami adalah menikah. Orang yang paling buruk diantara kamu adalah mereka yang membujang. Orang mati yang paling hina di antara kamu adalah orang yang membujang.” [HR Ibnu Atsir dan Ibnu Majah]
Bukankah dengan menikah, mereka akan disejajarkan Rasulullah SAW dengan mujahid fii sabilillah yang dijanjikan akan mendapat pertolongannya! Karena ada tiga golongan yang menjadi keharusan Allah untuk membantu mereka; orang yang menikah untuk memelihara kesucian diri, budak yang hendak membayar kemerdekaan dirinya, dan orang-orang yang berperang di jalan Allah. [HR Ahmad, Turmudzi, an-Nasa'i dan Ibnu Majah]
Tuh…subhanallah ya, nunggu apa lagi! Kalau udah siap lahir bathin, ikrarkan cinta dengan menikah!
Selamat berjuang akhi, jangan takut mengambil keputusan kalau udah siap (walaupun antum masih kuliah), karena akhwat lebih memilih para ikhwan yang berani mengajaknya menikah untuk bersama mengharapkan keridhoan Allah Subhanahu wa Ta’ala, daripada yang suka ‘mbulet-mbuletan!’
Wahai adam, Hawa itu tercipta indah dari rusukmu Terlindung 1001 hikmah dibalik keindahan itu Janganlah engkau sengaja patah-patahkan ia Sebaliknya luruskannya dengan penuh hikmah & sayang
Wanita akal senipis rambutnya Jangankan lelaki biasa, Nabi pun terasa sunyi tanpa wanita Tanpa mereka, fikiran dan perasaan lelaki akan resah Masih mencari walau ada segalanya Apa yang tiada dalam syurga? Namun adam tetap rindukan hawa
Dijadikan wanita daripada tulang rusuk yang bengkok Untuk diluruskan oleh lelaki. Tetapi seandainya lelaki itu sendiri tidak lurus, Mana mungkin kayu yang bengkok, menghasilkan bayang yang lurus
Luruskanlah wanita dengan jalan yang ditunjuk oleh Allah Karana mereka diciptakan sebegitu rupa oleh Allah Didiklah mereka dengan panduan darinya Jangan coba menjinakkan mereka dengan harta kerana nantinya mereka semakin liar Janganlah hiburkan mereka dengan kecantikan kerana nantinya mereka akan semakin derita Kenalkan mereka kepada Allah, zat yang kekal Di situlah puncak kekuatan dunia
Akal senipis rambutnya, tebalkanlah ia dengan ilmu Hati serapuh kaca, kuatkanlah ia dengan iman... Perasaan selembut sutera, hiasilah ia dengan akhlak Ingatlah perananmu wahai lelaki bergelar pemimpin
Suburkanlah ia karana dari situlah nantinya Mereka akan lihat nilaian dan keadilan Rabbi Bisikkan ke telinga mereka bahwa kelembutan bukan suatu kelemahan Ia bukan diskriminasi Allah... sebaliknya di situlah kasih dan sayang Allah
Wanita yang lupa hakikat kejadiannya Pasti tidak akan terhibur, dan tidak akan menghiburkan Tanpa iman, ilmu dan akhlak..mereka tidak akan lurus Bahkan akan semakin membengkok Itulah hakikatnya andai wanita tidak kenal Rabbinya Bila wanita menjadi derhaka pasti dunia lelaki akan menjadi huru hara... Lelaki pula janganlah mengharapkan ketaatan semata-mata
Tapi binalah kepimpinan Pastikan sebelum wanita menuju Ilahi, pimpinlah diri kepadanya Jinakkan diri kepada Allah Niscaya akan jinaklah segala-galanya di bawah pimpinanmu Janganlah mengharapkan isteri semulia Fatimah Az-Zahra' Seandainya dirimu tidak sehebat Saidina Ali karamallahuwajhah Bukankah kamu lelaki punya peranan besar terhadap hawa!
Lindungilah hawa itu. Jadilah pemimpin imamnya yang terbaik. Lindungilah hawa itu Lunakkan telingamu dan ajarinya dengan nafas alunan suci Al-Quran....
Alangkah bertuahnya berada di bawah Nur Islam, di mana segala kesusahan, kesakitan, kesedihan, kerinduan, kegelisahan yang dihadapi
dapat diharungi bersama dengan sabar dan ridha mengkafarahkan dosa-dosa kecil..
Wahai lelaki...wahai adam, Lindungilah hawa selagi kamu mampu, bukan menyakitinya Bimbingilah hawa di jalan NurNya, bukan menyesatkannya Wangikanlah mulutmu dengan nasihat hikmah, bukan meracuninya Jadilah pemimpin imam yang terbaik buatnya, saling membantu Hilangkanlah egomu kerna itu api yg membenamkan nur kebahgiaan Ingatlah wahai lelaki..
Wahai lelaki yang punya peranan besar, Jika benar kau mencintainya maka cintailah dia sepenuh hatimu.. jika benar kau kasih dan cintakan wanita itu, jagalah dia dengan baik, kasihanilah dia, lindungilah dia, berilah kasih sayang padanya, nasihatilah dia, bawalah dia ke jalan Allah, perbetulkan kesilapannya, bersabar dengannya, terimalah kekurangannya, jadi imamnya dan redhalah padanya.. Moga dia menunggumu di SYURGA SEBGAGAI BIDADARIMU . . .
Apa yang istimewa dari sebuah perayaan ulang tahun?
Kue ulang tahun dengan lilin berderet?
Pesta mewah dengan 1000 undangan?
Badut berhidung merah yang memeriahkan suasana?
Tumpukan kado yang nyaris menggunung di sudut ruangan?
Atau serbuan tepung dan telur busuk yang dilemparkan beramai - ramai sampai badan basah dan bau?
Terkadang, tak butuh pesta megah di gedung mewah untuk membuat ulang tahun menjadi istimewa.
Tak perlu kue tart 5 tingkat dengan lilin untuk ditiup.
Tak perlu setumpuk kado berisi barang - barang mahal yang kita idam - idamkan.
Karena terkadang, kehadiran keluarga dalam perayaan sederhana lengkap dengan tumpeng dan ubo rampe-nya merupakan momen terindah. Menikmati canda tawa dan luapan cerita yang terlontar. Bersama-sama melafalkan doa, penuh harapan dan permohonan untuk yang berulangtahun agar senantiasa bertumbuh dan mendewasa, menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya, disertai dengan ucapan syukur atas tahun-tahun yang telah terlewati.
That simple.
Sederhana, namun bermakna.
Dan semoga teman baik saya yang hari ini berulang tahun diberi kesempatan untuk menikmati momen istimewa tersebut dengan orang terdekat yang paling dikasihinya, keluarganya,in a place called home.
Saya disini hanya bisa meniupkan doa, agar dia senantiasa bertumbuh, mampu memaknai hidup dan mengisinya sampai penuh, dan menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
Kulitnya hitam. Wajahnya jelek. Usianya tua. Waktu pertama kali masuk ke rumah wanita itu, hampir saja ia percaya kalau ia berada di rumah hantu.
Lelaki kaya dan tampan itu sejenak ragu kembali. Sanggupkah ia menjalani keputusannya? Tapi ia segera kembali pada tekadnya. Ia sudah memutuskan untuk menikahi dan mencintai perempuan itu. Apapun resikonya.
Suatu saat perempuan itu berkata padanya, "Ini emas-emasku yang sudah lama kutabung, pakailah ini untuk mencari wanita idamanmu, aku hanya membutuhkan status bahwa aku pernah menikah dan menjadi seorang istri." Tapi lelaki itu malah menjawab, "Aku sudah memutuskan untuk mencintaimu. Aku takkan menikah lagi."
Semua orang terheran-heran. Keluarga itu tetap utuh sepanjang hidup mereka. Bahkan mereka dikaruniai anak-anak dengan kecantikan dan ketampanan yang luar biasa.
Bertahun-tahun kemudian orang-orang menanyakan rahasia ini padanya. Lelaki itu menjawab enteng, "Aku memutuskan untuk mencintainya. Aku berusaha melakukan yang terbaik. Tapi perempuan itu melakukan semua kebaikan yang bisa ia lakukan untukku. Sampai aku bahkan tak pernah merasakan kulit hitam dan wajah jeleknya dalam kesadaranku. Yang kurasakan adalah kenyamanan jiwa yang melupakan aku pada fisik."
Begitulah cinta ketika ia terurai jadi perbuatan.Ukuran integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati...terkembang dalam kata... terurai dalam perbuatan...Kalau hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. Kalau hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai dengan kepalsuan dan tidak nyata... Kalau cinta sudah terurai jadi perbuatan, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhunjam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam perbuatan. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.
Semakin dalam kita merenungi makna cinta, semakin kita temukan fakta besar ini, bahwa cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.
Rahasia dari sebuah hubungan yang sukses bertahan dalam waktu lama adalah pembuktian cinta terus menerus. Yang dilakukan para pecinta sejati di sini adalah memberi tanpa henti. Hubungan bertahan lama bukan karena perasaan cinta yang bersemi di dalam hati, tapi karena kebaikan tiada henti yang dilahirkan oleh perasaan cinta itu.
Seperti lelaki itu, yang terus membahagiakan istrinya, begitu ia memutuskan untuk mencintainya. Dan istrinya, yang terus menerus melahirkan kebajikan dari cinta tanpa henti. Cinta yang tidak terurai jadi perbuatan adalah jawaban atas angka-angka perceraian yang semakin menganga lebar dalam masyarakat kita.
"Jika kita memiliki kesempatan utk menjadi seseorang yg LUAR BIASA, Kenapa kita memilih utk menjadi biasa-biasa saja? Bukankah hidup ini hanya sekali saja? Pastikan diri kita BERGUNA untuk orang banyak."